Minggu, 01 Mei 2011

TUGAS MULIA GURU


TUGAS MULIA GURU

  1. Tugas Mulia Guru
Orang sering mengira bahwa tugas seorang guru hanyalah mengeja huruf dab menghitung angka. Kelihatannya sederhana ….
Sederhana?
Namun, pada praktiknya tidak sesederhana itu. Sebagai lapis kedua setelah keluarga dalam perannya mendidik anak, guru mempunyai peran yang sangat besar dalam tumbuh kembang seorang anak. Keberhasilan seorang anak saat dewasa apakah dia akan menjadi orang yang baik atau jahat, pintar atau bodoh, sukses atau gagal, dipengaruhi oleh didikan guru mereka, selain didikan keluarga dan pengaruh lingkungannya.
Tidak ada seorang tokoh pun di dunia ini yang berhasil tanpa peran serta seorang guru. Dia tidak akan berhasil menjadi politikus andal, ilmuwan yang pintar, tentara yang gagah berani, dan sebagainya, kecuali sebelumnya dia belajar banyak dari seorang guru. Bahkan, Rasulullah Saw. pun mengawali masa kecilnya dalam bimbingan seorang guru, sekaligus ibu susunya, yaitu Halimatus Sa’diyah. Halimah-lah yang mengajarkan kepada Rasulullah tentang cara bertutur kata dan bersikap baik.
Suku Sa’ad yang termasuk suku Badui Arab memang terkenal dengan kemurnian bahasanya sehingga keluarga Abu Muthalib memercayakan pengasuhan Muhammad kecil kepada mereka. Hingga Muhammad menjadi yatim, dewasa, dan kemudian diangkat sebagai Rasul, beliau tetap menghormati Halimah, seperti beliau memperlakukan orangtuanya.

  1. Kita Adalah Guru
Secara formal, menurut Undang-Undang No.14/2005, pasal 1, butir 1 tentang guru dan dosen, “Yang disebut dengan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Namun, pada dasarnya, setiap orang adalah guru, contoh yang digugu dan ditiru, terutama oleh anak-anak yang sering meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya.
Biasanya, anak-anak usia dini menerapkan apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka rasakan dari lingkungannya. Apa yang telah mereka dapatkan ketika masih kecil akan berbekas sangat kuat hingga mereka dewasa. Seperti peribahasa yang kita dengar, belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu. Oleh karena itu, orang dewasa yang dijadikan contoh oleh mereka, haruslah pintar-pintar dalam menjaga perilakunya sehingga dia bias menjadi contoh yang positif bagi anak-anak.
Lihatlah, betapa anak-anak sekarang berusaha meniru apa yang mereka lihat dari artis-artis dan tayangan televisi, meskipun tidak jarang, semua yang mereka serap berdampak negatif bagi perkembangan mental mereka.
Sekolah sebagai salah satu kekuatan besar dalam menciptakan agen perubahan perlu ditangani oleh guru-guru yang andal. Sekolah memerlukan guru yang berkualitas, profesional, dan mempunyai visi yang jauh akan perkembangan sumber daya manusia yang akan dating. Dengan demikian, seorang guru itu dapat menjadikan mereka sebagai generasi yang hebat dan mampu menjadi generasi rahmatan lil’alamin. Mereka pun akan menjadi manusia-manusia berkualitas, unggul, dan berdaya tahan tinggi dalam menghadapi perubahan.
Anak-anak adalah calon pewaris bangsanya. Dalam proses transferring values and knowledge, guru yang baik akan senantiasa mengajar dan berkomunikasi kepada anak-anak, dan bukan sekadar berkomunikasi terhadap mereka.
Lalu, bagaimana ciri-ciri guru yang kreatif dan profesional itu?
        1. Fleksibel.
Dibutuhkan guru yang tidak kaku, luwes, dan dapat memahami kondisi anak didik, memahami cara belajar mereka, serta mampu mendekati anak melalui berbagai cara sesuai kecerdasan dan potensi masing-masing anak.


        1. Optimistis.
Keyakinan yang tinggi akan kemampuan pribadi dan keyakinan akan perubahan anak didik ke arah yang lebih baik melalui proses interaksi guru-murid yang fun akan menumbuhkan karakter yang sama terhadap anak tersebut.
        1. Respek.
Rasa hormat yang senantiasa ditumbuhkan di depan anak didik akan dapat memicu dan memacu mereka untuk lebih cepat tidak sekadar memahami pelajaran, namun juga pemahaman yang menyeluruh tentang berbagai hal yang dipelajarinya.
        1. Cekatan.
Anak-anak berkarakter dinamis, aktif, eksploratif, ekspresif, kreatif, dan penuh inisiatif. Kondisi ini perlu diimbangi oleh Anda sebagai pengajarnya sehingga Anda mampu bertindak sesuai kondisi yang ada.
        1. Humoris.
Menjadi guru killer? Anak-anak malah takut kepada Anda dan tidak mau belajar. Meskipun tidak setiap orang mempunyai sifat humoris, sifat ini dituntut untuk dimiliki seorang pengajar. Karena pada umumnya, anak-anak suka sekali dengan proses belajar yang menyenangkan, termasuk dibumbui dengan humor. Secara tidak langsung, hal tersebut dapat membantu mengaktifkan kinerja otak kanan mereka.
        1. Inspiratif.
Meskipun ada panduan kurikulum yang mengharuskan semua peserta didik mengikutinya, guru harus menemukan banyak ide dari hal-hal baru yang positif di luar kurikulum. Ia dapat membuat anak didik terinspirasi untuk menemukan hal-hal baru dan lebih memahami informasi-informasi pengetahuan yang disampaikan gurunya.
        1. Lembut.
Di mana pun, guru yang bersikap kasar, kaku, atau emosional, biasanya mengakibatkan dampak buruk bagi peserta didiknya, dan sering tidak berhasil dalam proses mengajar kepada anak didik. Pengaruh kesabaran, kelembutan, dan rasa kasih sayang akan lebih efektif dalam proses belajar mengajar dan lebih memudahkan munculnya solusi atas berbagai masalah yang muncul.
        1. Disiplin.
Disiplin di sini tidak hanya soal ketepatan waktu, tapi mencakup berbagai hal lain. Sehingga, guru mampu menjadi teladan kedisiplinan tanpa harus sering mengatakan tentang pentingnya disiplin. Contoh, disiplin dalam waktu, menyimpan barang, belajar, dan sebagainya. Dengan demikian, akan timbul pemahaman yang kuat pada anak didik tentang pentingnya hidup disiplin.
        1. Responsif.
Ciri guru yang profesional, antara lain cepat tanggap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, baik pada anak didik, budaya, sosial, ilmu pengetahuan maupun teknologi, dan lain-lain.
        1. Empatik.
Setiap anak mempunyai karakter yang berbeda-beda, cara belajar dan proses penerimaan, serta pemahaman terhadap pelajaran pun berbeda-beda. Oleh karena itu, seorang guru dituntut mempunyai kesabaran lebih dalam memahami keberagaman tersebut sehingga bisa lebih memahami kebutuhan-kebutuhan belajar mereka.
        1. Nge-friend.
Jangan membuat jarak yang lebar dengan anak didik hanya karena posisi Anda sebagai guru. Jika kita dapat menjadi teman mereka akan menghasilkan emosi yang lebih kuat daripada sekedar hubungan guru-murid. Sehingga, anak-anak akan lebih mudah beradaptasi dalam menerima pelajaran dan bersosialisasi dengan lingkungannya.

  1. Suka Dengan Anak
Ini wajib! Jangan harap bisa bergaul dan mendidik anak-anak jika pada dasarnya Anda tidak suka anak-anak! Menyukai anak dan menyukai dunia mereka adalah syarat mutlak yang harus dimiliki seorang guru. Karena bagaimana pun, saat kita berada di antara mereka, bermain dan belajar bersama, kita pun harus kuat menikmati aktivitas tersebut. Sebab. Jika tidak, sia-sia saja apa yang telah kita lakukan.
Anak-anak sangat peka terhadap situasi lingkungannya. Dia dapat merasakan jika seseorang, termasuk gurunya, tidak menyukainya. Jika anak didik merasa bahwa gurunya tidak menyukai mereka, biasanya akan mengakibatkan anak didik menjadi phobia, bahkan antipati terhadap guru dan enggan belajar.
Sebenarnya, secara naluriah, setiap orang menyukai anak-anak. Tetapi, cara agar anak-anak tahu bahwa kita menyukai mereka, tidak semua orang bisa langsung mempraktikkannya dengan mudah. Padahal, anak-anak perlu tahu sehingga dia merasa aman. Not only teach, but also touch! Bukan hanya mengajar, melainkan juga menyentuh hati mereka! Kasih sayang dan rasa cintalah yang akan menguatkan hubungan antara guru-murid. Dan, itu harus diperlihatkan kepada anak-anak sebagai kunci dari penumbuhan rasa percaya diri mereka.
Kepercayaan dan rasa cinta adalah tenaga yang luar biasa. Perasaan tersebut yang mendorong tidak sekadar pikiran anak-anak, tetapi juga hati mereka untuk mempunyai rasa percaya diri dan kemandirian yang memberikan pengaruh penting dalam kehidupannya di masa dating.
I personally think that love is the most important element in developing the brain and developing the child.” (Prof. Marian Diamond, Brain Researcher)

  1. Anak Adalah Amanah
Hakikatnya, semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah, termasuk juga anak-anak kita. Menjaga mereka adalah kewajiban kita sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Khalik. Seperti kita menjaga barang yang dititipkan oleh orang lain, tentu kita akan berhati-hati dan berusaha menjaganya agar tidak rusak, agar sang pemilik merasa senang. Begitu pula dengan anak-anak kita. Bukankah anak adalah perhiasan dunia yang dititipkan Allah kepada kita?
Perlakukan mereka seperti kita menjaga perhiasan agar senantiasa berkilau dan indah sehingga kita pun ikut terimbas kilauannya. Jika dibiasakan melakukan kebaikan sejak kecil, insya Allah, dia akan tumbuh menjadi orang yang baikdi dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika dia tumbuh ditelantarkan tanpa pengawasan, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka.
Akan tetapi, ingat, bukan berarti karena saking hati-hatinya, kita menjadi otoriter menjaga anak-anak. Kadang, ada orangtua yang karena terlalu sayang pada anak-anaknya, mereka bersikap over protective sehingga anak tidak bisa bersosialisasi dengan lingkungannya. Mereka pun tumbuh menjadi anak yang manja, egois, dan sifat-sifat buruk lainnya. Sebaliknya, pengawasan yang kurang terhadap anak didik juga akan berakibat buruk bagi mereka. Seorang guru yang bersikap proporsional dalam menjaga dan mengawasi mereka adalah salah satu kunci sukses dalam pendidikan anak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar