Kamis, 01 Maret 2012

KENAKALAN REMAJA DAN PENANGGULANGANNYA



I.       Pengertian.
          Pada era globalisasi saat ini, fenomina dan istilah kenakalan remaja sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita. Lebih-lebih liputan berita yang bersangkutan tentang “kenakalan remaja” sudah membanjiri ke berbagai media baik cetak maupun elektronik. Lalu apakah pengertian dari pada kenakalan remaja itu sendiri? Menurut hemat penulis, kenakalan remaja adalah suatu sikap atau perilaku seorang remaja yang bertentangan dengan norma-norma agama, undang-undang negara, dan etika dalam bersosial kemasyarakatan. Sedangkan bentuk dari kenakalan itu sendiri sangatlah beragam, yang diantaranya: mabuk, judi, mengkonsumsi narkoba, seks bebas, premanisme, pembunuhan dan lain halnya dan lain sebagainya. Tentu hal semacam itu tidak lagi hanya akan merugikan diri pelakunya, akan tetapi juga dapat menjadi momok masyarakat yang mengancam dalam menjaga kesetabilan dalam kehidupan bermasyarakat, beragama dan bernegara. Adapun bentuk-bentuk dari pada ekpresi kenakalan yang terjadi di kalangan kaum remaja tidaklah datang begitu saja, melainkan karena beberapa faktor penunjang untuk terjadinya semua itu. Sehingga perlu sekali untuk kita mengerti sebelum prosesi penanggulangan. Sebab dalam pepatah mengatakan preventive is better than cure dalam artian menjaga agar tidak terjadinya sesuatu itu jauh lebih baik dari pada mengobatinya atau menaggulanginya. Sehingga bentuk-bentuk kenakalan tersebut tidak akan terjadi, dan kalaupun terjadi dapat kita minimalisir.

II. Penyebab.
          Ada aksi ada reaksi, tentunya hukum tersebut bukan hanya berlaku dalam teori kimia saja, akan tetapi dapat pula berlaku dalam berbagai hal. Begitupun seseorang melakukan sesuatu yang sekiranya dapat kita klasifikasikan sebagai perilaku diatas, hal itu karena adanya penyebab-penyebab tersendiri yang diantaranya adalah:
          • Pergaulan bebas, kita selain diciptakan sebagai makhluk spritual, namun kita juga adalah makhluk sosial yang perlu sekali untuk dapat berinteraksi terhadap sesama. Dalam hal ini kita mengenalnya dengan istilah hablun minannas atau hubungan horizontal. Bahkan dalam agama Islam sendiri sangat mengakui akan hal itu, bahwasanya manusia itu tercipta terdiri dari beragam bangsa dan suku agar dapat saling mengenal. Dengan demikian agama telah membuka jalan lebar dalam perihal pergaulan, akan tetapi disana terdapat rambu-rambu yang sekiranya sangat significant untuk di patuhi yang diantaranya adalah memilih seorang kawan. Memilih seorang kawan itu sama artinya memilih masa depan. Kalo kita salah dalam memilihnya tentunya akan sangat berpengaruh kepada nasib dari pada masa depan kita. Dalam hal ini, terdapat sebuah syair yang mengatakan:
Jikalau dirimu berada di suatu kaum, hendaknya kamu memilih teman yang baik
Dan janganlah sesekali kamu memilih teman yang buruk, karena kamupun akan turut menjadi buruk.
           Mencermati kandungan syair di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa seorang kawan dapat turut mewarnai dalam kita berfikir, berperilaku, berkeyakinan, bahkan dalam menentukan masa depan kita. Sebagai contoh kecilnya, terdapat sebutir telur elang yang di engramkan bersama dengan butiran-butiran telur ayam, pada saat telur-telur tersebut menetas dan berhasil di besarkan oleh induk ayam. Pada suatu hari mereka melihat seekor burung elang sedang terbang bebas di awan dengan gagahnya. Seketika anak elang bersua: “Aduhai sekiranya diriku dapat terbang laksana burung elang itu” belum sempat ia jauh dalam berhayal, anak ayam berkata kepadanya: “jangan bermimpi kamu, kodrat kita sudah seperti ini”. Seketika anak elang tersebut membuang jauh-jauh hayalan-hayalan tersebut, sehingga ia terlahir sebagai elang namun di besarkan dan mati sebagai seekor ayam.
          • Ghozul fikr (Serangan pemikiran), sejarah telah mencatat bahwa islam pernah gilang gemilang dan mendominasi berbagai bidang di belahan dunia ini, baik dalam bidang militer, politik, ekonomi, peradaban, dan bahkan sains. Namun hal itu kini tinggallah sebatas kenangan, setelahnya perang salib dan tumbangnya dinasti Ustmani atau daulah Ustmaniyah. Negara-negara Eropa mampu menjungkir balikkan umat islam menjadi umat yang penuh ketergantungan kepada mereka. Kekuatan orang-orang islam nyaris tidak membekas sama sekali, sebab mereka menjajah islam dengan secara halus baik secara langsung maupun tidak langsung. Umat islam di jajah dengan mediasi pemikiran, kebudayaan, dan mentalitas dengan berbagai macam cara, yang diantaranya lewat film, musik, gambar-gambar yang dari semua itu sangat menonjolkan akan kebebasan, sensualitas, modernitas, seks bebas, pornografi maupun porno aksi. Dengan cara demikian, umat islam terutama generasi mudanya mengalami kebobrokan moral dan kecacatan mental. Sehingga yang semulanya sebatas tontonan berubah menjadi tuntunan. Sehingga patutlah kita mengakui akan kebenaran syair yang mengatakan:
Sesungguhnya suatu umat akan tetap jaya, apabila akhlak masih di indahkan
Namun jikalau akhlak telah henyah, maka akan lenyaplah pula mereka
          • Minimnya pendidikan, Sumber Daya Manusia atau SDM sangatlah berperan penting dalam membangun karakter seseorang.. Kita patut mengakui bahwa kita menjadi umat yang “terbelakang” dalam hal pendidikan di bandingkan dengan negara-negara maju. Kini istilah globalisasi telah menjadi isu central, yang berarti menyiratkan sebuah peryataan apa dan bagaimana yang harus kita sikapi? Jawabannya adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM). Dengan demikian dengan kesiapan SDM, seseorang akan degan mudahnya untuk dapat menguasai dirinya, menguasai keadaan, dan menguasai tentang apa saja yang ia butuhkan. Sehingga dengan sendirinya tindakan-tindakan yang mengacu kepada kenakalan remaja dan kriminalitas akan sirna daripadanya, di sebabkan oleh karakter positif yang sudah tertanam dalam dirinya, dan juga karena ia terbiasa untuk positive thinking.

III. Pengaruh.
           Secara garis besarnya, kenakalan remaja sangat berdampak buruk bagi pelakunya terutama kepada jasmani, mental, kehidupan sosial, pekerjaan, beberapa penyakit yang diantaranya: HIV atau AIDS, hepatitis, radang jantung disamping itu dapat pula berakibat tidak harmonisnya hubungan dengan keluarga, masyarakat sekitar, di berhentikan dari tempat kerja,di keluarkan dari sekolah, memicu kepada perbuatan-perbuatan ilegal, kriminalitas dan bahkan hingga pada kematian.

IV. Penanggulangan.
          Runtuhnya moral umat ialah dikarenakan gagapnya umat dalam mengamalkan patokan-patokan pokok bermasyarakat dan juga umat hanya berpijak kepada kulit peradaban bukan pada isinya, sehingga timbullah meniru-niru dan mengadopsi peradaban ala barat. Dengan demikian yang di tiru bukanlah ilmu pengetahuan dan dalam segi positifnya, akan tetapi kepada hal-hal yang seronok dan bertentangan dengan fitroh sebagai manusia. Tentu saja dalam menanggulaginya sangat dibutuhkan kerjasama dari berbagai kalangan terutama pada sektor “pendidikan”. Sebelum melaksanakan pendidikan pencegahan, terlebih dahulu harus di pahami tentang konsep dasar pendidikan yang beranjak dari apa sebenarnya mendidik itu. Mendidik ialah membimbing anak supaya menjadi dewasa baik secara jasmani, sosial, psikologis, kritis, objektif, logis, sistematis dan kehidupan emosional yang stabil. Dengan tercapainya tujuan dari pendidikan maka akan terwujud keselarasan dan keseimbangan sehingga mampu menghadapi berbagai jenis persoalan hidup bukan lagi kepada frustasi, stres, maupun kebrutalan.
          Peran lembaga kepesantrenan dalam hal ini peran kyai atau ustadz maupun ustadzah sangat di perlukan guna membantu dalam menanamkan akhlak, tawadhuk, dan sopan santun. Disamping itu pula juga di perlukan kerjasama dari fihak aparat, dalam hal ini fihak kepolisian, sebab terjadinya suatu tindakan yang kurang normatif alasan paling prinsip karena adanya niat pelaku dan juga dikarenakan adanya kesempatan. Dengan demikian, fungsi para ustadz maupun ustadzah adalah membantu membimbing dalam meluruskan niat seseorang, sedangkan fungsi aparat meminize kesempatan seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan yang asusila.
          Sebagai kesimpulan bahwa maraknya kenakalan remaja yang terjadi bukanlah salah mereka seutuhnya, akan tetapi sebagian dari penyebabnya dikarenakan kurangnya pendidikan, keteladanan, perhatian dari keluarganya, lingkungan masyarakat sekitar, sahabat, atau bahkan negara. Oleh sebab itu merupakan tanggung jawab kita bersama untuk memikul tanggung jawab tersebut, sehingga kita termasuk golongan khoira ummatin ukhrijat linnasi, ta’muruuna bil ma’rufi watanhauna ‘anil mungkari.


Rabu, 29 Februari 2012

GO TO SAMARINDA












REFLECTIVE TEACHER QUESTION TO CONSIDER



QUESTIONS
v  Lesson Planning (Perencanaan Pelajaran)
1.      What are the objectives of your lesson ?
-        Apa tujuan dari pembelajaranmu ?
2.      How many objectives do you have ?
-        Berapa banyak tujuan yang Anda miliki ?
3.      What activities will help you meet the objectives ?
-        Kegiatan apa yang membantu Anda dalam mencapai tujuan ?
4.      How will you asses that your objectives were met this today ?
-        Bagaimana Anda akan menilai bahwa tujuan Anda telah terpenuhi hari ini?
5.      How much time did you spend on your lessons ?
-        Berapa banyak waktu yang Anda habiskan pada pelajaran Anda ?

v  Giving Directions (Memberikan Arahan)
1.      How did you give the directions? Verbally? On the board? Both?
-        Bagaimana Anda memberikan petunjuk? Lisan? Di papan tulis? Keduanya?
2.      How could you tell if the students understood the directions ?
-        Bagaimana Anda bisa tahu jika siswa memahami arahan ?
3.      What did you do to ensure the students understood the directions? Comprehensi check? Modeling? Other?
-        Apa yang Anda lakukan untuk memastikan siswa memahami arahan? Cek pemahaman? Pemedean? Lainnya?

v  Pacing Transitions (Langkah dan Peralihan)
1.      How much time did you spend on each avtivity ?
-        Berapa banyak waktu yang Anda habiskan untuk setiap aktivitas ?

2.      How did you change from one activity to another ?
-        Bagaimana Anda mengubah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya ?
3.      Were the activities connected in theme ?
-        Apakah kegiatan yang berkaitan dengan tema ?
4.      Were the students easily able to move from one activity to another ?
-        Apakah siswa dapat dengan mudah berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya ?
5.      Were the students ready to move on to a new activity.
-        Apakah siswa siap untuk pindah ke aktivitas baru ?
6.      What was the energy level of the students throughout the activity ?
-        Apa tingkat energi siswa di seluruh aktivitas ?

v  Students and Teacher Interactions (Interaksi Siswa dan Guru)
1.      How much did you talk during the lesson ?
-        Berapa banyak Anda berbicara selama pelajaran ?
2.      How much did the students produce English during lesson ?
-        Berapa banyak siswa menghasilkan bahasa Inggris selama pelajaran ?
3.      How many different students used English is this day’s lesson ?
-        Berapa banyak perbedaan siswa yang telah menggunakan bahasa Inggris dalam pelajaran hari ini ?
4.      How many students responded to your questions ?
-        Berapa banyak siswa yang menanggapi pertanyaan Anda ?
5.      What types of group or pair activities did you do ?
-        Apa jenis kegiatan kelompok atau pasangan yang Anda lakukan ?
6.      What did you do during the group and pair activities ?
-        Apa yang Anda lakukan selama kegiatan kelompok dan pasangan ?




v  Classroom Management (Manajemen Kelas)
1.      What did you do to call the class to order ?
-        Apa yang Anda lakukan untuk memanggil kelas untuk memerintahkan ?
2.      How did you get students to come back to a whole class after group and pair work ?
-        Bagaimana Anda dapat mengembalikan siswa ke seluruh kelas setelah kerja kelompok dan pasangan ?
3.      How did you respond to shy students ?
-        Bagaimana Anda menanggapi siswa pemalu ?
4.      How did you respond to talkactive students ?
-        Bagaimana Anda menanggapi siswa yang suka bicara ?
5.      How did you respond to students questions ?
-        Bagaimana Anda menanggapi pertanyaan-pertanyaan siswa ?
6.      What did you do if/when a students didn’t understand ?
-        Apa yang Anda lakukan jika/ketika siswa tidak mengerti ?
Other things you wants to observe (Hal-hal yang Anda ingin amati) :

ANSWER
v  Lesson Planning (Perencanaan Pelajaran)
1.      Tujuan dari pembelajaran saya adalah untuk membantu dan membimbing murid atau para siswa dalam belajar dan menuntut ilmu.
2.      I have two objectives.
3.      Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan adalah proses belajar mengajar.
4.      Dengan cara memberikan murid atau siswa pertanyaan atau soal latihan karena dengan cara itu kita dapat mengetahui apakah penjelasan atau bimbingan kita kepada para siswa itu berhasil atau tidak.
5.      I spend on my lessons is two time.



v  Giving Directions (Memberikan Arahan)
1.      Keduanya, yaitu dipapan tulis dan dengan lisan.
2.      Dengan menanyakan kepada murid apa mereka sudah mengeti atau tidak, jika tidak maka maka akan dijelaskan lagi sampai mereka paham.
3.      Dengan mengecek pemahaman mereka, mungkin dengan soal ulangan.

v  Pacing Transitions (Langkah dan Peralihan)
1.      Minimal 2 jam.
2.      Dengan menghentikan aktivitas yang sudah selesai dikerjakan kemudian mengubahnya ke aktivitas yang baru.
3.      Kegiatan yang berkaitan dengan tema adalah berbicara dengan menggunakan berbagai bahasa yang mungkin mereka kuasai.
4.      Mungkin tidak mudah bila aktivitas yang pertama belum selesai dikerjakan oleh seluruh siswa tapi bila aktivitas yang pertama telah selesai dikerjakan maka akan dengan mudah berpindah ke aktivitas berikutnya.
5.      Ya, mereka telah siap berpindah ke aktivitas baru.
6.      Tingkat energi siswa di seluruh aktivitas adalah beragam, ada yang bersemangat dan ada yang tidak.

v  Students and Teacher Interactions (Interaksi Siswa dan Guru)
1.      Minimal 2 jam dalam pelajaran selama memberikan penjelasan.
2.      Setengah dari mereka menggunakan bahasa Inggris.
3.      Setengah perbedaannya mereka yang menggunakan bahasa Inggris.
4.      Sebagian dari mereka merespon pertanyaan.
5.      Jenis kelompok yang digunakan.
6.      Menjadi pengawas dan pembimbing mereka selama kegiatan kelompok atau pasangan.




v  Classroom Management (Manajemen Kelas)
1.      Memerintahkan mereka mengatur dan mengurus kelas.
2.      Dapat dengan memerintahkan mereka kembali ke kelas masing-masing dengan tertib dan tidak ribut.
3.      Dengan sering mengajaknya bicara.
4.      Dengan memanfaatkan kesukaannya tersebut, seperti memerintahkannya untuk membaca di depan kelas.
5.      Dengan memberi penjelasan yang disertai dengan contoh.
6.      Dengan memberikan penjelasan secara terperinci dan contoh agar dia bisa mengerti.

SEJARAH AL-QUR'AN


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
الْحَمْدُ لِلّهِ, وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللّهِ, وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ مَنْ دَعَا بِدَعْوَتِهِ واهتدى يهداه

A.    Pendahuluan
Setiap agama tentu memiliki kitab sucinya masing-masing. Demikian halnya dengan agama Islam, memiliki kitab suci Al-Qur’an sebagai pedoman hidup setiap pemeluknya. Apakah fungsi dan hikmah diturunkannya? Apakah keistimewaannya dibandingkan dengan kitab suci agama lain? Dan bagaimana seharusnya kita memperlakukan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari?
Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT. yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW. melalui malaikat Jibril. Al-Qur’an merupakan pedoman hidup kaum muslimin dalam kehidupannya sehari-hari.
Kitab suci Al-Qur’an terdiri dari 30 juz, 114 surah, 6236 ayat, diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Adapun diturunkannya Al-Qur’an yaitu di kota Mekkah dan sekitarnya, kemudian di kota Madinah dan sekitarnya. Semua ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. wajib disampaikan kepada umat manusia.
Al-Qur’an kitab Allah SWT. yang paling lengkap dan sempurna, karena Al-Qur’an membenarkan dan melengkapi kitab-kitab Allah yang sebelumnya. Keaslian Al Qur’an memang benar-benar terjaga-dari dahulu sampai sekarang bahkan hingga akhir zaman. Karena, selain umat Islam yang menjaga keasliannya, Allah SWT. telah berjanji menjaga kalamnya, sebagaimana firman-Nya :
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحفِظُوْنَ .
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr : 9)

B.     Apakah Al-Qur’an Itu?
1.      Arti Kata Al-Qur’an dan Apa Yang Dimaksud Dengan Al-Qur’an
“Qur’an” menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. Subhi Al Salih berarti “bacaan”, asal kata qaraa. Al-Qur’an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf’ul yaitu maqru (dibaca).
Di dalam Al-Qur’an sendiri ada pemakaian kata “Qur’an” dalam arti demikian sebagai tersebut dalam ayat 17-18 surat Al-Qiyamah.
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ .فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ .
Kemudian dipakai kata “Qur’an itu untuk Al-Qur’an yang dikenal sekarang ini. Adapun definisi Al-Qur’an ialah : “Kalam Allah SWT. yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW. dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah”.
Dengan definisi ini, kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad SAW. tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s, atau Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s. Demikian pula kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah. Seperti Hadits Qudsi, tidak pula dinamakan Al-Qur’an.
2.      Cara-Cara Al-Qur’an Diwahyukan
Nabi Muhammad SAW. dalam hal menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan, di antaranya :
a.       Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi SAW. tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada dalam hatinya. Mengenai hal ini nabi mengatakan : Ruhul qudus mewahyukan ke dalam kalbuku,’ (lihat surat (42) Asy Syuura ayat (51).
b.      Malaikat menampakkan dirinya kepada nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hapal benar akan kata-kata itu.
c.       Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya lonceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahtu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit : “Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa.”
d.      Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan no. b, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al-Qur’an surat (53) An-Najam ayat 13 dan 14.
وَلَقَدْ رَآهُ نَزَّلَةً أُخْرَى . عِنْدَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى .
“Sesungguhnya Muhammad telah melihat pada kali yang lain, ketika ia berada di Sidratul Muntaha.

C.    Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Berangsur-Angsur
Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun. 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Hikmah Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur itu ialah :
1.      Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan suruhan, dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan Bukhari dari riwayat Aisyah r.a.
2.      Di antara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh. Sesuai dengan kemaslahatan. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al-Qur’an diturunkan sekaligus. (Ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh).
3.      Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan kejadian/peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.
4.      Memudahkan penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menanyakan mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surat (25) Al-Furqan ayat 32, yaitu :
“……….mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekaligus …….?” Kemudian dijawab di dalam ayat itu sendiri : “…………..Demikianlah, dengan (cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu ……….”.
5.      Di antara ayat-ayat ada yang merupakan jawaban dari pada pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas r.a. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al-Qur’an diturunkan sekaligus.
Ditinjau dari segi masa turunnya, maka Al-Qur’an itu dibagi atas dua golongan, yaitu :
1.      Ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah atau sebelum Nabi Muhammad SAW. hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Makiyyah.
2.      Ayat-ayat yang diturunkan di Madinah atau sesudah Nabi Muhammad SAW. hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Madaniyyah.
Ayat-ayat Makiyyah meliputi 19/30 dari isi Al-Qur’an terdiri atas 86 surat. Sedang ayat-ayat Madaniyyah meliputi 11/30 dari isi Al-Qur’an terdiri atas 28 surat.
Perbedaan ayat-ayat makiyyah dengan ayat-ayat madaniyyah ialah :
1.      Ayat-ayat makkiyyah pada umumnya pendek-pendek, sedang ayat-ayat madaniyyah panjang-panjang. Surat madaniyyah yang merupakan 11/30 dari isi Al-Qur’an ayat-ayatnya berjumlah 1.456, sedangkan surat makiyyah yang merupakan 19/30 dari isi Al-Qur’an jumlah ayat-ayatnya 4.780 ayat. Juz 28 seluruhnya madaniyyah kecuali surat (60) Mumtahinah. Ayat-ayatnya berjumlah 137, sedang juz 29 ialah makiyyah kecuali surat (76) Ad-Dahr, ayat-ayatnya berjumlah 431. Surat Al-anfal dan surat Asy-Syu’ara masing-masing merupakan setengah juz tetapi yang pertama madaniyyah dengan bilangan ayat sebanyak 75, sedangkan yang kedua makiyyah dengan ayatnya yang berjumlah 227.
2.      Dalam surat-surat madaniyyah terdapat perkataan “Ya ayyuhalladziina aamanuu” dan sedikit sekali terdapat perkataan “Yaa ayyuhannaas”, sedang dalam surat-surat makiyyah adalah sebaliknya.
3.      Ayat-ayat makiyyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat yang terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti. Sedangkan madaniyyah mengandung hukum-hukum, baik berhubungan dengan hukum adat atau hukum-hukum duniawi. Seperti hukum-hukum kemasyarakatan, hukum ketatanegaraan, hukum perang, hukum internasional, hukum antar agama dan lain-lain.

D.    Nama-Nama Al-Qur’an
Allah memberi nama kitabnya dengan Al-Qur’an yang berarti “bacaan”. Arti ini dapat kita lihat dalam surat (75) Al-Qiyamah ayat 17-18 sebagaimana tersebut di atas.
Selain Al-Qur’an Allah SWT. juga memberi beberapa nama lain bagi kitabnya seperti :
1.      Al Kitab atau Kitabullah. Merupakan sinonim dari perkataan Al-Qur’an. Sebagaimana tersebut dalam surat (2) Al-Baqarah ayat 2 yang artinya : “Kitab (Al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya).
2.      Al-Furqan. Artinya “Pembeda”ialah “Yang membedakan yang benar dan yang batil”. Sebagaimana tersebut dalam surat (25) Al-Furqan ayat 1 yang artinya “Maha Agung (Allah) yang telah menurunkan Al-Furqan kepada para hambanya, agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam”.
3.      Adz Dzikir. Artinya “Peringatan”, sebagaimana yang tersebut dalam surat (15) Al-Hijr ayat 9 yang artinya “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikir dan sesungguhnya Kami-lah yang menjaga kemurniannya”.
Dari nama yang tiga tersebut di atas, yang paling masyhur dan merupakan nama khas ialah Al-Qur’an. Selain dari nama-nama yang tiga itu ada lagi beberapa nama bagi Al-Qur’an Imam As-Suyuthy dalam kitabnya Al-Itqan, menyebutkan nama-nama Al-Qur’an, di antaranya : Al-Mubiin, Al-Kalam, An-Nuur.
Adapun jumlah surat yang terdapat dalam Al-Qur’an ada 114. Nama-nama batas-batasnya tiap surat, susunan ayat-ayatnya adalah merupakan ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah sendiri (tauqifl). Sebagian dari surat-surat Al-Qur’an sendiri mempunyai satu nama dan sebagian yang lain mempunyai lebih dari satu nama. Sebagaimana yang akan diterangkan dalam muqaddimah tiap-tiap surat.
Surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an ditinjau dari segi panjang dan pendeknya terbagi atas 4 bagian, yaitu :
1.      ASSB’UTHTHIWAAL, Ali Imran, An-Nisaa, Al A’raaf, Al An’am, Al Maidah dan Yunus.
2.      AL MIUNN. Dimaksudkan surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih. Seperti : Hud, Yusuf, Al Mu’min dan sebagainya.
3.      AL MATSAANI. Dimaksudkan surat-surat yang berisi kurang sedikit dari seratus ayat. Seperti : Al Anfaal, Al Hijr dan sebagainya.
4.      AL MUFASHSHAL. Dimaksudkan surat-surat yang pendek. Seperti : Adh Dhuha, Al Ikhlas,Al Falaq, An Nas dan sebagainya.
Adapun huruf-huruf terletak pada permulaan surat. Dalam Al-Qur’an terdapat 29 surat, yang dimulai dengan huruf-huruf hijaiyyah yaitu pada surat-surat : (1) Al Baqarah, (2) Ali Imran, (3) Al A’raaf, (4) Yunus, (5) Ar Ra’ad, (6) Yusuf, (8) Ibrahim, (9) Al-Hijr, (10) Maryam, (11) Thaaha, (12) Asy Syu’ara (13) An Naml, (14) Al Qashash, (15) Al ‘Ankabut, (16) Ar Ruum, (17) Lukman, (18) As Sajadah, (19) Yasin, (20) Shaad, (21) Al Mu’min, (22) Fushshilat, (23) Asy Syuuraa, (24) Az Zukhruf, (25) Ad Dukhaan, (26) Al Jaatsiyah, (27) Al Ahqaaf, (28) Qaaf, dan (29) Al Qalam (Nuun).
Sejak zaman sahabat telah ada pembagian Al-Qur’an menjadi 1/2, 1/3, 1/5, 1/7, 1/9 dan sebagainya. Pembagian tersebut hanya sekedar untuk hafalan dan amalan dalam tiap-tiap sehari semalam atau di dalam sembahyang, dan tidak ditulis di dalam Al-Qur’an atau di pinggirnya. Barulah pada masa Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi diadakan penulisan di dalam atau di pinggir Al-Qur’an dengan tambahan istilah-istilah baru.
Salah satu cara pembagian Al-Qur’an itu ialah dibagi menjadi 30 juz, 114 surat dan 60 hizb. Tiap-tiap hizb ditulis namanya dan ayat-ayatnya dan tiap-tiap hizb ditulis sebelah pinggirnya yang menerangkan : hizb pertama, kedua dan seterusnya. Dan tiap-tiap satu hizb dibagi 4. Tanda 1/4 hizb ditulis dengan ربّع tanda 1/2 ditulis dengan نصف dan tanda 3/4 hizb ditulis dengan ثلاثة ارباع
Pembagian cara inilah yang dipakai oleh ahli-ahli qiraat Mesir, dan atas dasar itu pulalah percetakan Amriyah milik pemerintah Mesir mencetak Al-Qur’an semenjak tahun 1337 Hijrah sampai sekarang, di bawah pengawasan para guru besar Al Azhar.

E.     Sejarah Pemeliharaan Al-Qur’an
1.      Memelihara Al-Qur’an Di Masa Nabi SAW
Pada permulaan Islam bangsa Arab adalah satu bangsa yang buta huruf, amat sedikit di antara mereka yang pandai menulis dan membaca. Mereka belum mengenal kertas, seperti kertas yang dikenal sekarang, perkataan “Al Waraq” (daun) yang lazim pula dipakaikan dengan arti “kertas” di masa itu, hanyalah dipakaikan pada daun kayu saja.
Adapun kata “Al Qirtas” yang dari padanya terambil kata-kata Indonesia “kertas” dipakaikan oleh Amerika hanya kepada benda-benda (bahan-bahan) yang mereka pergunakan untuk ditulis, yaitu kulit binatang, batu yang tipis dan licin, pelapah kurma, tulang binatang dan lain sebagainya.
Setelah mereka menaklukkan negeri Persia, yaitu sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW., barulah mereka mengetahui kertas. Orang Persia menamai kertas itu “kaqhid”. Maka dipakailah kata-kata kaqhit ini untuk kertas oleh bangsa Arab pada masa itu.
Adapun sebelum masa nabi ataupun di masa nabi, kata-kata “Al Kaqhit” itu tidak ada dalam pemakaian bahasa Arab, maupun dalam hadits-hadits nabi. Kemudian kata-kata “Al Qirthas” dipakai pula oleh bangsa Arab yang dinamakan “Kaqhid” dalam bangsa Persia itu.
Kitab atau buku tentang apapun, juga belum ada pada masa mereka. Kata-kata “Kitab” di masa itu hanyalah berarti sepotong kulit, batu, atau tulang dan sebagainya yang telah bertulis atau berarti surat, seperti kata “Kitab” dalam ayat 28 surat (27) An Naml.
Karena mereka belum mengenal kitab atau buku sebagai yang dikenal sekarang, sebab itu diwaktu Al-Qur’an dibukukan di masa khalifah Utsman bin Affan. Mereka tidak tahu dengan apa Al-Qur’an yang telah dibukukan itu dinamai. Bermacam-macam pendapat sahabat tentang nama yang harus diberikan, akhirnya mereka sepakat menamainya Al-Qur’an.
Demikian keadaan bangsa Arab diwaktu kedatangan agama Islam. Maka dijalankan oleh nabi suatu cara yang amali (praktis) yang selaras dengan keadaan itu dalam menyiarkan Al-Qur’an dan memeliharanya.
Tiap-tiap diturunkan ayat-ayat itu nabi menyuruh menghafalnya dan menulisnya di batu, kulit binatang, pelapah kurma, dan apa saja yang bisa disusun dalam suatu surat. Nabi menerangkan tartib ayat-ayat itu, nabi mengadakan peraturan, yaitu Al-Qur’an sajalah yang boleh dituliskan. Selain dari Al-Qur’an, hadits atau pelajaran-pelajaran yang mereka dengar dari mulut nabi dilarang menuliskannya. Larangan ini dengan maksud supaya Al-Qur’an Al karim itu terpelihara. Jangan campur aduk dengan yang lain-lain yang juga didengar dari nabi.
Nabi menganjurkan supaya Al-Qur’an itu dihafal, selalu dibaca dan diwajibkannya membaca dalam sembahyang. Dengan jalan demikian banyaklah orang yang hafal Al-Qur’an. Surat yang satu macam, dihafal oleh ribuan manusia, dan banyak yang hafal seluruh Al-Qur’an. Dalam pada itu tidak satu ayat pun yang tidak ditulis.
Kepandaian menulis amat dihargai dan digembirakan oleh nabi. Beliau berkata :
“Di akhirat nanti ulama-ulama tintanya itu akan ditimbang dengan darah syuhada (0rang-orang yang mati syahid)”.
Dengan demikian terdapatlah di masa nabi tiga unsur yang tolong menolong memelihara Al-Qur’an yang telah diturunkan itu.
a.       Hafalan dari mereka yang hafal Al-Qur’an.
b.      Naskah-naskah yang ditulis untuk nabi.
c.       Naskah-naskah yang ditulis oleh mereka yang pandai menulis dan membacanya untuk mereka masing-masing.
Dalam pada itu oleh Jibril diadakan ulangan (repetisi) sekali setahun. Di waktu ulangan itu nabi disuruh mengulang memperdengarkan Al-Qur’an yang telah diturunkan. Ulangan itu diadakan dua kali oleh Jibril, di tahun beliau wafat.
2.      Al-Qur’an Di Masa Abu Bakar r.a
Sesudah Rasulullah wafat, para sahabat baik Anshar maupun Muhajirin sepakat mengangkat Abu Bakar menjadi khalifah. Pada awal masa pemerintahannya banyak di antara orang-orang Islam yang belum kuat imannya. Terutama di Nejed dan Yaman banyak di antara mereka yang menjadi murtad dari agamanya, dan banyak pula yang membayar zakat. Di samping itu ada pula orang-orang yang mengaku dirinya sebagai nabi. Hal ini dihadapi oleh Abu Bakar dengan tegas, sehingga ia berkata terhadap orang-orang yang menolak zakat itu demikian :
“Demi Allah! Kalau mereka menolak untuk menyerahkan seekor kambing sebagai zakat (seperti apa) yang telah mereka serahkan kepada Rasulullah, niscaya aku akan memerangi mereka”. Maka terjadilah peperangan yang hebat untuk menumpas orang-orang yang murtad dan pengikut-pengikut orang yang terkenal adalah perang Yamamah. Tentara Islam yang ikut perang ini, kebanyakan dari sahabat dan penghafal Al-Qur’an. Dalam peperangan ini telah gugur 70 orang penghafal Al-Qur’an, bahkan sebelum itu gugur pula hampir sebanyak itu penghafal Al-Qur’an di masa nabi pada suatu pertempuran di Sumur Ma’unah dekat kota Madinah.
Oleh karena Umar bin Khattab khawatir akan gugurnya para sahabat penghafal Al-Qur’an yang masih hidup. Maka ia lalu datang kepada Abu Bakar membicarakan hal ini. Dalam pembicaraannya mengenai pengumpulan dan pembukuan Al-Qur’an secara menyeluruh.

F.     Kesimpulan
Kitab suci Al-Qur’an yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. jika dipelajari lebih mendalam ternyata banyak sekali fungsinya bagi kelangsungan hidup manusia, di antaranya :
1.      Sebagai petunjuk dan pemberi kabar gembira, firman Allah : “Seseungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus dan memberi kabar gembira bagi orang-orang yang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka pahala yang besar.
2.      Sebagai pedoman dan petunjuk bagi mereka (manusia).
3.      Sebagai pembimbing yang lurus.
4.      Sebagai pembenar kitab-kitab suci sebelumnya, yakni Taurat, Zabur, Injil.
5.      Sebagai penerang dan pelajaran.
  
DAFTAR PUSTAKA

1.      Umary Barmawie, 1984, Materi Akhlak, Solo : Ramadhani

2.      Abduh,Muhammad, 1976, Risalah Tauhid, Jakarta : Bulan Bintang

3.      Al-Qardhawi Yusuf, 2002, Islam Agama Ramah Lingkungan, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar